Buye O'Shop

beli softlens online di sini tempatnya ^.^

Chapter 1 ~ “PUTUS”

Sebuah rumah dengan halaman yang tertata rapih terlihat pintu jendela masih tertutup rapat. Padahal saat itu matahari sudah terik membumbung tepat di atas kepala. Melalui celah-celah kecil dari pintu jendela, sinar mentari yang panas menyengat dengan centil mencoba untuk mengintip seseorang yang berada di balik jendela itu.

Tak tampak bagian tubuhnya, hanya rambut panjang berwarna cokelat yang tergurai tak beraturan di atas sebuah bantal bulat gepeng. Matanya masih tertutup rapat seakan-akan gempa bumi pun tidak akan bisa membangunkan dirinya. Hingga akhirnya…

Alunan lagu yang terdengar dari balik selimut mulai mengusik tidurnya. Tangannya pun mulai bergerak, meraba-raba mencari sesuatu yang telah membangunkan tidur nyenyaknya. Sebuah handphone blackberry berhasil diraih dari balik selimutnya. Matanya dengan perlahan melihat caller id yang muncul di handphone itu.

w-i-l-l-y, dengan perlahan otaknya mengeja tulisan tersebut. Hanya dalam waktu 3 detik, kesadarannya seakan kembali penuh.

“Iya, Yank?”, jawab Alicia seakan sudah bangun sejak pagi tadi.

“Malam ini kita ketemu di cafe biasa yah jam7?”, suara Willy terdengar begitu lembut. Membuat Alicia ingin kembali tertidur setelah mengatakan “Ok”.

Mobil honda jazz berwarna putih mulai memasuki halaman parkir yang mulai dipenuhi oleh mobil-mobil lainnya. Alicia turun dari mobil itu menggunakan rok pendek kotak-kotak berwarna putih-hitam dengan kemeja yang selaras dengan roknya. Tas kecil berbulu menggantung di tangannya.

Memasuki pintu kaca besar, Alicia melihat jam yang menempel di tangannya, jam 7 lewat 10menit. Dalam ruang yang luas itu, Alicia melihat sekeliling berusaha mencari sosok yang ia kenal. Willy menggunakan kaos polo berwarna biru muda sedang menanti di sudut ruangan malam itu. Dari balik kaca matanya, Willy melihat ke arah Alicia.

“…”, mulut Willy terbuka namun tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya tangannya yang melambai memberi isyarat bahwa ia ada di sudut ruangan itu.

“Hi”, jawab Alicia manis. Memberi tahu bahwa Alicia telah melihat Willy.

“Kamu mau pesan apa?”, Tanya Willy ketika Alicia sudah mengambil tempat duduk di hadapannya.

“Chicken katsu sama jus alpukat saja”, jawab Alicia sambil menaruh tas bulunya tepat di samping sofa yang ia tepati.

Willy pun kembali melambaikan tangannya. Namun bukan untuk memanggil Alicia melainkan untuk memesan makanan kepada waittres di café itu.

“Kamu tidak makan?”, Tanya Alicia kepada Willy setelah mendengar Willy hanya memesan chicken katsu dan juice alpukat pesanan Alicia dan jus jeruk untuk Willy.

“Aku sudah makan tadi”, jawab Willy simpel.

Tak lama kemudian jus pesanan diantarkan lterlebih dahulu oleh waitress. Barulah setelah 5 menit, chicken katsu pesanan Alicia diantar. Hari ini Willy tidak seperti biasa. Jika bertemu dengan Alicia senyum manis dan mata yang menawan dari balik lensa kacamatanya selalu membuat Alicia deg deg an. Tapi hari ini…

“Kamu kurang enak badan?”, Tanya Alicia sambil meraba dahi Willy.

“Tidak kok”, kata Willy.

“Bagaimana kerjaan kamu hari ini?”, Tanya Alicia lagi.

“Baik-baik saja”, sambil meminum juice jeruknya.

“Kamu lagi ada masalah?”, Alicia kembali meluncurkan pertanyaannya.

“Serius aku tidak apa-apa. Jadi jangan tanya lagi, ok?”

Alicia langsung terdiam sambil memakana chicken katsunya. Pasti ada sesuatu yang salah dengan Willy. Tidak pernah sekalipun Willy bertindak seperti ini kepada Alicia. “Kamu marah sama aku?”, tanya Alicia lagi beberapa saat setelah mengunyah chicken katsunya.

“…”, kembali Willy tanpa kata-kata.

Mata Alicia melihat tajam menembus lensa kacamata Willy. Alicia seperti merasakan akan ada suatu ledakan yang mengalahkan dasyatnya ledakan bom Bali tahun lalu.

“Sebenarnya…”

“Apa?”, Alicia langsung menyambar seperti petir ketika badai melanda.

“Kita putus saja”, pandangan mata Willy yang tajam tepat menusuk ke wajah Alicia.

“Ha?”, pikiran Alicia langsung kosong melompong. Tidak tahu apa yang ia pikirkan. Seakan-akan seluruh sudut dalam ruangan itu mendadak menjadi gelap. Suara-suara bisikan orang yang sedang bercanda dan berbicara pun mendadak menjadi sepi sunyi. Matanya hanya tertuju kepada bibir Willy yang dengan perlahan sepertinya mengucapkan kata putus.

“Kita putus saja”, Willy kembali mengulang perkataan yang baru saja ia ucapkan beberapa detik yang lalu.

Alicia hanya bias terdiam. Mencoba mencari sesuatu yang dapat membuat dirinya sadar bahwa ini hanyalah mimpi. Tapi Alicia tidak menemukan apa-apa. Otak-otak kecilnya terus saja bekerja membuat Alicia yakin bahwa ini adalah nyata.

“Kenapa, aku ada salah sama kamu?”, Tanya Alicia ragu-ragu, masih berharap bahwa ini adalah mimpi semata yang akan hilang ketika ia terbangun nanti.

“Kamu tidak salah apa-apa. Aku merasa kita sudah tidak cocok saja”

“Aku merasa kita baik-baik saja”

“Itu kamu, bukan aku”, Willy langsung memotong perkataan Alicia. “Sudah lah… Aku tidak mau terlalu banyak bicara. Aku harap kita bias jadi teman mulai sekarang. Bye…” Willy pergi meninggalkan Alicia.

“…” bibir Alicia terbelalak tanpa mengatakan sepatah kata pun. Matanya melihat pundak Willy yang semakin lama semakin terlihat kecil dan kemudian menghilang.

Chicken katsu yang tergeletak tak berdaya kini terlihat tidak akan pernah disentuh lagi oleh Alicia. Matanya kini mulai berbinar dilapisi air mata yang membendung seakan akan-akan sebentar lagi akan tumpah membanjiri seluruh pipinya. Alicia sepertinya hanya berada seorang diri di dalam café itu. Terang cahaya lampu yang menyinari café itu kian lama semakin meredup hingga akhirnya hanya tinggal satu yang menyala di atas kepala Alicia. Orang-orang yang mulai ramai berdatangan untuk makan di café itu pun terasa satu demi satu mulai meninggalkan tepat itu hingga terasa sunyi sepi menyelimuti dirinya.

“Prangggg”, suara gelas yang jatuh akibat ulah teledor seoarang waittress akhirnya mengembalikan kesadaran Alicia kepada keadaan semula. Matanya masih membendung air mata yang seolah-olah sudah tidak mampu ia tahan lagi. Tangannya yang terasa sudah tidak bertenaga mengambil tas bulu yang semula ia letakkan tepat di sambil sofa yang ia duduki. Kaki kiri dan kanan nya kini terasa dipaku oleh ribuan paku beton sepanjang 15cm sehingga membuat dirinya sulit untuk melangkah.

 

~To Be Continue~

2 Comments »